Artikel




Kekhususan-kekhususan Wanita Dari segi hukum kaum wanita mempunyai perbedaan dengan laki-laki dari beberapa sisi di antaranya adalah:


1. Bahwa kaum wanita dilarang memotong rambut kepalanya berdasarkan larangan dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana telah di sebutkan dalam hadits yang di riwayatkan oleh Imam Nasa'i.


2. Bertambahnya tanda baligh pada mereka, di antaranya yaitu dengan keluarnya darah haid dan hamil.


3. Wanita tidak boleh mengumandangkan adzan demikian juga iqomah untuk sholat jama'ah yang akan mereka lakukan di kalangan mereka, karena wanita di larang untuk mengangkat suaranya, karena akan mengundang fitnah.


4. Bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat melainkan wajah dan tangannya, itu di dalam sholat, jika tidak ada lelaki asing di sekitarnya.


5. Suara wanita adalah aurat, oleh karena itu Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam membedakan antara laki dan perempuan ketika ingin membetulkan kesalahan imam sholatnya, beliau bersabda:





"Bertasbih bagi laki-laki sedangkan tepuk tangan bagi


perempuan". HR Bukhari dan Muslim.


4


6. Wanita tidak diperbolehkan mengangkat tangannya melebihi pundak tatkala melakukan takbir di dalam sholat.


7. Tidak boleh mengeraskan suara di dalam bacaan sholat jahriyah.


8. Tatkala mereka ingin mengingkatkan kesalahan imam di dalam sholat maka dengan bertepuk tangan bukan dengan bertasbih.


9. Mereka tidak layak di jadikan imam bagi laki-laki dan hukumnya tidak sah karena di antara salah satu syaratnya menjadi imam adalah laki-laki.


10. Makruh bagi mereka ikut menghadiri sholat jama'ah bersama laki-laki di masjid karena sholat yang ia kerjakan di dalam rumahnya itu lebih utama dari pada ikut berjama'ah di masjid.


11. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk menghadiri sholat jum'at.


12. Tidak boleh untuk melakukan perjalanan jauh kecuali apabila di temani oleh suami atau mahramnya, maka atas dasar ini mereka tidak wajib untuk melaksanakan ibadah haji kecuali bila di temani oleh mahramnya, di larang mengeraskan suara ketika bertalbiyah, bolehnya memakai baju berjahit tatkala ihram, tidak melakukan romal, tidak mencukur rambutnya namun yang di wajibkan adalah memendekan, dan melaksanakan thowaf jauh dari ka'bah itu lebih baik bagi dirinya.


13. Tidak ada syari'at berkhutbah bagi mereka secara mutlak baik hari jum'at maupun pada kesempatan yang lainya.


14. Bolehnya memakai sepatu tatkala sedang ihram.


15. Dibolehkan tidak melakukan thowaf perpisahan karena sebab haid namun harus mengakhirkan thowaf haji tatkala haid dengan menunggu sampai dirinya suci.


5


16. Disunahkan memakai kafan dengan lima lapis, yaitu izaar dan ridaa serta khimar dan dua lapis lainnya.


17. Tidak di syari'atkan bagi mereka mengiringi jenazah bahkan itu termasuk perkara yang di larang.


18. Bahwa syahadat (persaksian) mereka tidak di terima dalam kasus hudud dan qishos.


19. Bolehnya mereka memakai pacar (pemerah kuku) di tangan dan kakinya berbeda dengan laki-laki maka mereka di larang untuk hal itu kecuali kalau memang darurat.


20. Bahwa wanita sama dengan setengah dari lelaki di dalam masalah pembagian warisan, persaksian, diyat, aqiqoh, dan pembebasan budak.


21. Seorang wanita di dahulukan atas kaum pria di dalam hak mengasuh.


22. Bolehnya mendahului laki-laki ketika berangkat dari Muzdalifah menuju Mina pada malam mabit di Muzdalifah, demikian pula dalam sholat, mereka boleh mendahului laki-laki untuk segera pergi tatkala sudah selesai.


23. Mereka berada di shof paling belakang tatkala ikut serta sholat jama'ah bersama laki-laki karena sebaik-baik shof wanita adalah yang paling akhir.


24. Bahwa tatkala berkumpulnya jenazah antara laki dan perempuan maka jenazah wanita di akhirkan dan di jadikan jenazahnya yang paling belakang dan jenazah laki yang paling dekat dengan imam.


25. Bahwa wanita yang membunuh tanpa sengaja tidak punya tanggungan apa-apa bersama 'Aqilah1nya dalam masalah diyat berbeda dengan laki-laki.


1 . 'Aqilah mereka adalah saudara kandung yang mempunyai kewajiban


membayar diyat karena sebab pembunuhan yang tanpa di sengaja atas saudara


6


26. Haram bagi wanita berduaan dengan lelaki yang bukan mahramnya demikian juga ngobrol bersama mereka. Wallahu a'alam. 2


Penutup Segala puji bagi Allah yang dengan segala kenikmatan-Nya amal sholeh menjadi sempurna. Amma Ba'du:


Atas karunia dan taufik-Nya saya mengucapkan segala puji bagi Allah yang mana dengan ini menjadi sempurna apa yang ingin kami sampaikan, dalam ulasan yang berkaitan dengan bimbingan dan nasehat yang sangat di butuhkan oleh seorang wanita muslimah mulai dari bimbingan dalam masalah Rabbnya, agama, serta urusan dunia dan akhiratnya, demikian juga yang berkaitan dengan kewajiban hijab atas mereka, hijab yang akan menjaga serta memelihara kesuciannya, penjelasan akan haramnya tabaruj, campur baur bersama kaum lelaki, dan membuka wajah yang akan menimbulkan fitnah dan mendatangkan bala bencana, tabaruj atau dandanan yang sama seperti telah di gambarkan dalam al-Qur'an, yang di lakukan oleh kaum Jahiliyah yang pertama, dan kelakukan semacam itu di tiru persis oleh kaum Jahiliyah abad ke dua puluh ini, bahkan keadaanya lebih parah lagi dari pada tabarujnya jahiliyah yang pertama, itu semua, di sebabkan karena mereka senang


mereka yang melakukan pembunuhan tersebut. Pent. (lihat Taisir A'laam syarh


Umdatul Ahkaam Syaikh Abdullah Alu Bassam 2/413).


2 . Husnu Uswah bima tsabata 'anillah wa rasulihi fii niswah hal: 294-300.


7


mengekor terharap dunia barat yang memang mereka sudah tidak beriman lagi kepada Allah dan hari akhir.


Akan tetapi, berbeda dengan seorang wanita muslimah yang menjaga kesuciannya serta beriman kepada Allah dan hari akhir, ia sadar akan kewajiban serta tanggung jawabnya, dengan selalu menjaga kesucianya, serta kemulianya, yaitu dengan selalu memakai hijab dari pandangan lelaki asing, menjauhi sifat tabaruj, campur baur bersama lelaki, membuka wajah serta segala hal yang telah jelas larangan untuk ia kerjakan. Ia selalu berusaha untuk mempunyai sifat-sifat yang ada pada umahatul mu'minin yaitu istri-istri Nabi kita Muhammad yang jujur lagi terpercaya Shalallahu 'alaihi wa sallam, demikian juga anak-anak beliau serta shohabiyah, para istri-istri sahabat yang selalu tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya, yang menjaga pada kemulian, kehormatan serta rasa malunya, sehingga mereka menjadi contoh teladan yang sangat baik bagi anak perempuan, dan saudari-saudari kita semua, demikian juga menjadi contoh bagi wanita muslimah, yang beriman, menjaga kesucian, ahli ibadah, selalu bertaubat dari kalangan wanita yang sudah menikah maupun yang masih perawan, bagi mereka-mereka yang menundukan pandangan serta menjaga kemaluanya, tidak menampakan perhiasannya melainkan kepada mahramnya, tetap tinggal di dalam rumahnya, menjaga dengan hijab, menurunkan jilbabnya sampai kedada dalam rangka mengerjakan perintah Rabb dan Nabinya, maka kami ucapkan selamat bagi mereka dengan sebab taufik Allah mereka mampu mengerjakan itu semua, serta selamat dengan sebab ketaatan yang mereka lakukan pada Allah dan RasulNya, dan kabar gembira bagi mereka dengan pahala


8


yang telah di janjikan oleh Allah bagi siapa saja yang mau taat dan takut kepada-Nya, yang demikian itu, semuanya merupakan keutamaan dari Allah yang di berikan kepada siapa saja yang di kehendaki-Nya. Sungguh kami telah merangkum isi yang terkandung di dalam bimbingan serta arahan-arahan ini dari dalam firman Allah dan sabdanya Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam, demikian juga dari perkataanya para ulama, kami telah sandarkan setiap ucapan pada orang yang mengucapkannya, kami sebutkan maraji dan nomor ayat, mulai dari nama surat dan nomor ayatnya. Kami sandarkan hadits-hadits Nabi kepada para imam yang telah meriwayatkanya, dan kami telah berusaha memilah dan meringkas sebisa mungkin. Kami hadirkan pembahasan yang kiranya sangat di butuhkan oleh seorang wanita muslimah yaitu yang berkaitan dengan masalah haid, istihadoh dan nifas yaitu hukum yang telah di takdirkan atas kaum wanita, demikian juga kami telah membahas hukum wanita bila memang harus bekerja di luar rumahnya, serta kekhususan para wanita dari segi hukum yang berbeda dengan kaum pria.


Akhirnya kami memohon kepada Allah Ta'ala agar tulisan ini bisa memberi manfaat bagi semua kalangan serta menjadikan kami dan saudara-saudara kita kaum muslimin dan muslimat termasuk dari orang-orang yang apa bila mendengar kebaikan mengatakan :"Kami mendengar lalu kami taat", dan semoga kita semua di jadikan sebagai orang-orang yang apabila mendengar sebuah perkataan mengikuti yang baik. Shalawat serta salam


9


semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad kepada


keluarga serta para sahabat beliau.


Seharum minyak kesturi


Allah Azza wa jalla berfirman:





"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki


dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang


tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar,


laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan


yang khusyu' di dalam sholatnya, laki-laki dan perempuan yang


mau bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki


dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan


perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah


menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar".


(QS al-Ahzaab: 35).


Maha benar Allah atas firmanNya, sedangkan bagi Rasul-Nya yang mulia sungguh telah menyampaikan semuanya adapun bagi


10


kita atas itu semua menjadi saksinya. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sangat banyak, yang baik lagi mengandung barokah di dalamnya, sebagaimana yang dicintai dan diridhoi oleh Rabb kita dengan keagungan serta kemulianNya. Shalawat serta salam semoga selalu tertuju pada sebaik-baik ciptaan, Nabi kita Muhammad kepada keluarganya para sahabat serta seluruh pengikutnya yang tetap setia sampai hari kiamat nanti.


Kejadian di Pertempuran Badar


Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam


semoga tercurah kepada Rasulallah. Aku bersaksi bahwa tidak ada


ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah semata


yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku juga bersaksai bahwa


Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba


dan utusanNya. Amma ba'du:


Adalah pada hari jum'at tanggal tujuh belas bulan ramadhan


pada tahun dua hijriyah terjadinya perang Badar pada musim


panas, pada hari ketika bertemu dimedan pertempuran antara


dua kelompok, golongannya Allah dan golongannya setan.


Tatkala fajar merekah, membelah kegelapan malam, dipagi


hari itu Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam menyuruh Bilal untuk


memanggil para sahabatnya; 'Sholat wahai hamba Allah'.


Selanjutnya beliau sholat shubuh bersama mereka. Seusai sholat


beliau memberi arahan untuk berangkat perang, membentuk


barisan untuk para sahabatnya, kemudian memberi arahan,


strategi dan perintah sebagaimana biasa pimpinan perang


memberikan arahan kepada pasukannya sebelum berangkat ke


medan tempur.


Setelah itu beliau shalallahu 'alaihi wa sallam berpaling


menuju ketempat pimpinan pasukan, pada saat itu sebuah tenda


yang dibikin khusus untuknya, yang semisal dengan ruang rapat


para komando pasukan pada zaman sekarang.


Beliau disana sambil menunggu tanda-tanda datangnya


pasukan musuh, dan membiarkan para sahabat untuk berpikir,


bagaimana mengatur strategi menghadapi musuh, dan memulai


peperangan dengan orang yang aniaya dan lalim. Dimana Nabi


shalallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa orang yang


4


dholim pasti akan terkalahkan, dan pasukan yang aniaya pasti


kalah, sedang orang yang terdholomi pasti ditolong.


Dan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam sebelumnya telah


memerintahkan para sahabatnya supaya menggali sumur


disekitar Badar yang kemudian dipendam dan ditutupi. Kemudian


membangun kolam disekitar sumur yang bisa mengumpulkan air


sehingga menjadi penuh, dan Badar adalah tempat berkumpulnya


manusia, di sana ada pasar dari pasar-pasar Jahiliyah, yang berada


diruas-ruas jalan disekitarnya, yang mana banyak orang arab yang


mendatangi tempat tersebut dari tiap daerah.


Dan tempat itu sekarang dari madinah kurang lebih sejauh


seratus lima puluh tiga kilo meter.


Awal pertempuran:


Pertama kali orang yang menyulut terjadi peperangan adalah


al-Asad bin Abdul Asad al-Makhzumi, seorang laki-laki sadis dan


berperangai buruk. Dia keluar sembari berkata: "Aku berjanji


kepada Allah, sungguh aku akan meminum dari telaga mereka


atau aku hancurkan telaga tersebut atau aku mati karenanya".


Melihat hal tersebut, maka Hamzah bin Abdul Muthalib keluar,


manakala keduanya saling berhadapan maka Hamzah berhasil


memukulnya, lalu menebas kakinya pada pertengahan betis


sementara dia belum mencapai telaga, diapun tersungkur dalam


kondisi terlentang dan kakinya memuncratkan darah hingga


mengenai para rekannya. Kemudian dia merangkak menuju telaga


hingga akhirnya tercebut disitu.


Dia rupanya ingin menepati sumpahnya akan tetapi hal itu


gagal terlaksana karena Hamzah melayangkan tebasan untuk yang


kedua kalinya tatkal dia berada ditelaga itu.1


1 . Siroh Nabwiyah karya Ibnu Hisyam 2/214.


5


Kemudian sekelompok tentara Quraisy, dan diantara mereka ada Hakim bin Hizam, pergi menuju telaga yang dibuat oleh Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam. Beliau berkata: 'Biarkan mereka!. Maka tidak seorangpun yang meminumnya ketika itu, melainkan dia terbunuh, kecuali Hakim bin Hizam. Dia tidak terbunuh dan masuk Islam setelah itu serta keislamannya pun menjadi baik. Bila bersungguh-sungguh didalam sumpahnya, dia selalu mengatakan: 'Tidak, demi Dzat yang telah menyelamatkan ku (dari kematian pada) hari Badar'. 2 Duel satu lawan satu merupaka pembuka dalam peperangan Badar, dan merupakan kebiasaan mereka kalau dalam duel ini tidak ada yang keluar melainkan orang-orang kesatria ditengah-tengah pasukan, dan inilah yang terjadi diperang Badar. Sehingga Allah ta'ala berfirman akan hal tersebut dalam kitabNya: ﴿ هَٰ هَٰ نِ ا هَٰ صۡ هَٰ نِ ا صۡ 


"Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka". (QS al-Hajj: 19). Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu, beliau berkata: "Saya adalah orang yang pertama kali akan berlutut dihadapan Allah untuk (dua golongan yang bertengkar) pada hari kiamat". HR Bukhari no: 4744.


2 . 2 . Siroh Nabwiyah karya Ibnu Hisyam 2/212.


6


Masih dalam riwayat Bukhari dengan sanadnya yang sampai pada Ali radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan: "Ayat ini turun berkaitan dengan dengan kami, yaitu:


"Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka". (QS al-Hajj: 19). HR Bukhari no: 3967. Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah hadits dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, bahwasannya beliau bersumpah kalau ayat ini:


"Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka". (QS al-Hajj: 19). Ayat ini turun berkaitan dengan Hamzah dan dua temannya, Utbah bersama dua temannya, pada hari ketika mereka bertiga duel satu lawan satu bersama musuh pada hari Badar". HR Bukhari no: 4743. Muslim no: 3033.


Dan diriwayatkan oleh Bukhari dengan sanadnya yang sampai pada Abu Ishaq, bahwa seseorang yang bertanya kepada Bara' bin Azib sedang saya mendengar disisinya, orang itu bertanya: 'Apakah Ali ikut perang Badar? Beliau menjawab: "Betul, bahkan


7


dirinya duel satu lawan satu bersama musuh dan beliau ketika itu memakai baju besi". HR Bukhari no: 3970. Abu Dawud meriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu, beliau bercerita: "Maka Utbah bin Rabi'ah dan saudaranya serta anaknya tampil kedepan, lalu Utbah menantang: 'Siapakah berikutnya'. Maka tampilah tiga orang pemuda dari kalangan Anshar. Kemudian para penantang berkata: 'Siapakah kalian? Mereka pun memberi tahu identitasnya. Utbah berkata: 'Kami tidak butuh orang-orang seperti kalian, yang kami butuhkan adalah anak-anak paman kami sendiri'. Hal tersebut langsung disambut oleh Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau berkata: "Bangunlah wahai Hamzah, bangunlah wahai Ali, Bangunlah wahai Ubaidah bin al-Harits!". Kemudian Hamzah berhadapang dengan Utbah, adapun saya berhadapan dengan Syaibah. Sedangkan Ubaidah dan rivalnya sama-sama berhasil melayangkan dua tikaman ke arah lawan masing-masing sehingga membuat keduanya luka parah. Kemudian kami menyongsong Walid sampai dirinya terbunuh, lalu kami mengendong Ubaidah (yang terputus kakinya)". HR Abu Dawud no: 2665. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan abi Dawud 2/507 no: 2321. Saat-saat menegangkan dan sulutan api peperangan


 Abu Jahal laknatullah meregang maut.


Abu Jahal Amr bin Hisyam sang thagut, gembong pelawan kebenaran, rangkaian kelalimannya sangatlah banyak, dan contohnya banyak sekali.


Sesungguhnya Fir'aunnya Musa terhenti kelalimannya manakala tenggelam bersama bala tentaranya, kaumnya Hud,


8


Sholeh, dan Luth semuanya binasa. Dan tiap orang lalim lagi sombong harus berakhir kehidupannya dengan sesuatu yang menyiksa. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman menjelaskan akan hal tersebut dalam firmanNya: ﴿ هَٰ مُ هَٰ صۡ هَٰ





"Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri". (QS al-'Ankabuut: 40).


Akhirnya kisah kekejaman Abu Jahal pun usai, dirinya dijebloskan kedalam sumur dengan meninggalkan keangkuhan serta kesombongannya untuk mempertahankan kebatilan melawan kebenaran. Namun, perjalanan kisah anak manusia tetap membuktikan bahwa yang namanya kebenaran pasti akan terus langgeng. Dan dahulu dikatakan: "Dinasti kebatilan hanyalah sementara sedangkan dinasti kebenaran akan tetap sampai hari kiamat". 3


3 . Lihat Marwiyaat Badr oleh al-'Alimi hal: 222.


9


Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdurahman bin Auf radhiyallahu 'anhu beliau bercerita: "Aku berada di dalam barisan pasukan pada saat perang Badar berkecamuk. Tiba-tiba disebalah kanan dan kiriku ada dua anak muda yang masih belia. Seakan aku tidak percaya atas keberadaan mereka disitu. Lalu salah seorang di antara keduanya berkata secara rahasia padaku agar tidak diketahui oleh temannya. 'Wahai paman! Tunjukkan padaku, dimana Abu Jahal!". Lalu aku berkata: 'Wahai anak saudaraku, apa yang akan kamu lakukan? Dia menjawab: "Aku diberitahu bahwa dia mencaci maki Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam. Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, jika aku melihatnya, maka dia tidak akan luput dari incaranku hingga ada yang mati terlebih dahulu di antara kami'. Mendengar hal itu, aku jadi terkesima. Dan setelah itu, yang seorang lagi mengedipkan matanya padaku dan berkata sebagaimana yang dikatakan oleh temannya tadi. Maka tak berapa lama, aku melihat Abu Jahal berkeliling di tengah orang-orang. Lalu aku berkata: "Tidakkah kalian berdua melihat? Dialah orang yang kalian berdua tanyakan tadi". Maka, keduanya cepat-cepat melesatkan pedang ke arahnya dan menyabetnya hingga berhasil membunuhnya. Kemudian keduanya menghadap Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam, lantas mengabarkannya, lalu beliau bertanya: 'Siapa diantara kalian berdua yang telah membunuhnya? Maka, masing-masing dari keduanya sama-sama mengklaim 'Akulah yang telah membunuhnya'. Lalu beliau melihat ke arah kedua pedang tersebut seraya berkata: "Kalian berdua telah membunuhnya".


Kedua anak muda tersebut adalah Mu'adz bin Amr bin al-Jamuh dan Mu'adz bin Afra. Lalu Rasulallah shalallahu 'alaihi wa


10


sallam memberikan harta rampasan Abu Jahal kepada Mu'adz bin Amr bin al-Jamuh". HR Bukhari no: 3141. Muslim no: 1752. Di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersama tatkala usai perang Badar: "Siapa yang melihat apa yang terjadi dengan Abu Jahal". Lantas Abu Mas'ud berpencar mencarinya, lalu dia menemukannya dalam keadaan sedang menanti detik akhir ajalnya karena tebasan pedang anaknya Afra'. Dia lalu bertanya: 'Apakah kamu Abu Jahal? Lantas dia menginjak lehernya dengan kakinya dan menarik jenggotnya agar dapat memenggal kepalanya. Abu Jahal berkata: 'Apakah kamu injak orang yang telah mereka bunuh, atau orang yang dibunuh sama kaumnya sendiri". HR Bukhari no: 4020. Muslim no: 1800. Beliau menceritakan, telah berkata Abu Mijlaz: 'Abu Jahal berkata pada waktu itu: 'Andai saja yang membunuhku bukan seorang pembajak tanah (maksudnya orang Anshar yang pekerjaan mereka bercocok tanam). Dalam redaksinya Imam Bukhari dia mengatakan: 'Andai yang membunuhku orang yang sepadan denganku". HR Bukhari no: 3961. Dirinya juga mengatakan kepada Ibnu Ma'sud tatkala itu: 'Sungguh engkau telah melakukan pendakian yang amat sulit, wahai penggembala kambing! Lalu ia menambahkan: 'Tolong beritahukan kepadaku, siapa yang keluar sebagai pemenang hari ini?.


Ibnu Mas'ud menjawab: "Allah dan RasulNya". 4


4 . Siroh Ibnu Hisyam 2/227.


11


 Terbunuhnya pemuka kafir Quraisy Umayyah bin Khalaf.


Dirinya meregang maut ditangannya Bilal al-Habasyi, Umayyah adalah orang yang pernah menyisiksa Bilal ketika di Makah. Pada waktu itu yang mampu keluar dari mulutnya Bilal adalah Ahad, ahad. Hal itu, tidak mungkin bisa dilupakan begitu saja, itu merupakan cambukan diwajah muram orang yang lalim disetiap waktu dan tempat. Sungguh hal tersebut sangat mempengaruhi Bilal, akan tetapi pengaruh tersebut bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, namun, demi membela kebenaran yang dipeganginya. Sudah saatnya berakhir perjalanan sang musuh, dan melihat dimana tempat perjalanan terakhirnya, sedang akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah merahmati Bilal, dirinya telah memberi dua suri tauladan kepada kita: Pertama: Mampu menahan siksa dan derita didalam menjaga agama Allah, dimana dirinya kokoh bagaikan besi dan kuat seperti baja.


Kedua: Membuat musuh Allah merasakan maut melalui tangannya. Untuk membuktikan kepada dunia dan sejarah anak manusia bahwa kebenaran dan keimanan pasti akan ditolong atas kekufuran dan kelaliman. 5 Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair: Selamat, semoga Allah menambah kebaikan untukmu Sungguh engkau telah melunasi dendammu, wahai Bilal


5 . Marwiyaat Ghazwati Badar hal: 226.


12


Dan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada para sahabatnya akan kematian Umayyah bin Khalaf ini, hal itu sebagaimana dikisahkan oleh Abdurahman bin Auf radhiyallahu 'anhu, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, beliau menceritakan: "Aku pernah menulis surat kepada Umayyah bin khalaf yang isinya agar dirinya mau menjaga keluarganya di Makah, dengan balasan aku akan menjaga keluarganya yang ada diMadinah, tatkala aku tulis ar-Rahman, maka dia berkata: 'Aku tidak tahu siapa ar-Rahman, tulis saja namamu seperti ketika Jahilayah'. Aku pun akhirnya menuruti, maka aku tulis Abdu Amr. ketika terjadi perang Badar, aku keluar menjaganya ke atas gunung tatkala orang-orang sedang tertidur, namun, pada saat itu Bilal melihatnya. Dirinya lantas meloncat dan berdiri ditengah-tengah kaum sambil berteriak sekencang-kencangnya: 'Umayyah bin Khalaf sang pemuka orang-orang kafir, aku tidak akan selamat jika dia selamat!". Lalu orang-orang Anshar mengepung kami, tatkala aku khawatir mereka bisa mengejarku maka aku perintah anaknya supaya menjegal mereka, tapi anaknya pun berhasil diatasi dan mati terbunuh. Kemudian mereka berhasil mengejar kami, Umayyah adalah orang gendut yang banyak lemaknya. Akhirnya tatkala mereka berhasil mengejar kami, aku katakan padanya: 'Duduklah, lalu ia duduk'.


Selanjutnya Abdurahman memeluknya dari atas, lalu mereka pun menebaskan pedang-pedang mereka dari bawah hingga berhasil membunuhnya. Sebagian pedang itu malah mengenai kaki Abdurahman bin Auf. Dan beliau pernah memperlihatkan kepada kami bekas luka sabetan pedang tersebut dikakinya". HR Bukhari no: 2301. 6


6 . Lihat pembahasan ini secara luas dalam kitab penulis Hadatsun Ghayara Majra Taarikh hal: 338-340.


13


Akhirnya kita tutup dengan mengucapkan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, pada keluarga beliau serta para sahabatnya.



Tulisan Terbaru

Keutamaan Puasa Enam ...

Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal Shawal