Artikel




Akhlak Dalam Perspektif Islam


3


الأخلاق في الإسلام


Akhlak Dalam Perspektif Islam


Segala puji hanya bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasullah . Amma ba’du.


Maka kita memuji Allah  yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat Islam, dan memerintahkan akhlak yang mulia, lalu memberi ganjaran yang begitu besar terhadapnya.


Akhlak mulia adalah salah satu sifat para nabi dan orang-orang soleh, dan dengannya pula manusia menjadi lebih tinggi derajat serta kedudukannya. Allah  telah mensifati nabi-Nya Muhammad  dengan satu ayat yang menghimpun semua kebaikan akhlak dan budi pekerti.


Firman Allah :


 وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ 


“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al Qalam: 4).


Akhlak Dalam Perspektif Islam


4


Akhlak yang mulia menimbulkan kecintaan dan kasih sayang, sedangkan prilaku yang buruk mengakibatkan kebencian dan kedengkian. Budi pekerti yang mulia memberikan pengaruh yang sangat jelas sekali bagi orang yang menjalankannya dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat, terlebih jika orang tersebut bertaqwa kepada Allah . Rasulullah  bersabda:


))أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ((


“Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk ke dalam surga adalah Taqwa kepada Allah dan budi pekerti yang mulia.” (HR. Tirmidzi dan Hakim).


Akhlak yang mulia dapat berupa: Wajah yang berseri-seri, berbuat kebajikan, dan meninggalkan perbuatan yang dapat mencelakakan manusia, termasuk di dalamnya menjaga perkataan yang baik, mengendalikan emosi dan menyembunyikannya, serta tabah dalam menghadapi kejahatan orang lain. Rasulullah  telah bersabda:


))بُعِثْتُ لِأُتَمِِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ((


“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad, Baihaqi dan Hakim, dan ia menganggapnya sahih).


Akhlak Dalam Perspektif Islam


5


Dan Rasulullah  telah berwasiat kepada Abu Hurairah  dengan sabdanya:





"Wahai Abu Hurairah berbudi pekertilah dengan baik”, Abu Hurairah berkata: Apakah Budi pekerti yang baik itu ya Rasulullah? Beliau bersabda: “Kamu menyambung orang yang memutuskan silaturrahmi denganmu, memaafkan orang yang telah berbuat zalim kepadamu, dan memberi orang yang telah menolakmu.” (HR. Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman).


Lihatlah wahai saudaraku muslim, pengaruh yang sangat kuat dan ganjaran yang begitu besar dari akhlak yang mulia ini.


Rasulullah  telah bersabda:


))إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكَ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ((


Akhlak Dalam Perspektif Islam


6


“Sesungguhnya orang yang berakhlak mulia sama derajatnya dengan orang yang berpuasa dan melaksanakan sholat malam.” (HR. Ahmad).


Dan Rasulullah  menjadikan akhlak yang mulia masuk dalam kesempurnaan iman seseorang. Beliau bersabda:


))أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا((


“Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”


Renungkan pula sabda Rasulullah :





“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan pekerjaan yang paling disukai oleh Allah  adalah menyenangkan hati seorang muslim, atau membantu menghilangkan kesulitan yang dihadapinya, atau menutupi segala hutangnya, atau memberi makan


Akhlak Dalam Perspektif Islam


7


kepadanya, dan aku berjalan bersama saudaraku muslim untuk memenuhi kebutuhannya sungguh lebih aku sukai dari pada beri’tikaf di dalam masjid selama satu bulan penuh.” (HR. Tabrani).


Saudaraku muslim... satu kalimat ringan, namun kamu ucapkan dengan penuh kelembutan, mendatangkan pahala sebagai ganjaran terhadapnya, dan hal itu termasuk salah satu bentuk shadaqah.


Rasulullah  bersabda:





“Satu kata yang baik adalah shadaqah.” (Muttafaqun ‘alaih).


Hal itu dikarenakan kata-kata yang baik mampunyai bekas dan pengaruh yang baik pula, sebagaimana ia dapat mendekatkan hati dan menimbulkan perasaan saling mencintai dalam jiwa manusia serta menghilangkan perasaan saling membenci.


Arahan-arahan nabi yang menganjurkan agar manusia berakhlak mulia dan sabar terhadap keburukan yang menimpa dirinya sungguh banyak sekali. Di antaranya sabda Rasulullah :


Akhlak Dalam Perspektif Islam


8





“Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah keburukkan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapus keburukan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi).


Akhlak seorang muslim selalu menyertainya di mana saja ia berada, hal ini menyebabkan ia dicintai manusia dan dekat dengan mereka dalam segala aktifitas yang dilakukannya, atau di setiap tempat yang ditujunya, hingga sesuap makanan yang diberikan untuk istrinya, ia mendapatkan ganjaran terhadapnya.


Rasulullah  telah bersabda:





“Dan sesungguhnya apapun bentuk yang kamu nafkahkan adalah shadaqah, hingga sesuap makanan yang kamu berikan untuk istrimu.” (HR. Bukhari).


Akhlak Dalam Perspektif Islam


9


Saudarku yang tercinta....! Orang-orang mu’min satu dengan lainnya adalah saudara, dan wajib bagi seorang muslim mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri...Lihatlah apa yang kamu sukai untuk dirimu, maka persembahlanlah hal tersebut kepada saudaramu sesama muslim, dan apa yang kamu benci untuk dirimu jauhkanlah ia darinya. Dan janganlah sekali-kali kamu menghina orang yang mengimani Allah sebagi Tuhannya, Muhammad sebagai rasul dan nabi-Nya, karena nabi  telah mengingatkan hal tersebut dengan sabdanya:


))بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ((


“Cukuplah bagi seseorang dikatakan telah berbuat keburukan dengan menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim).


Wahai saudaraku muslim...! Jalan kebaikan yang mudah dan ibadah yang ringan itu ada setiap saat. Rasulullah  bersabda kepada Abu Darda : “Tidakkah aku tunjukkan kepadamu ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi tubuh? Abu Darda berkata: “Iya wahai Rasulullah! Maka beliau bersabda:


Akhlak Dalam Perspektif Islam


10


))عَلَيْكَ بِالصَّمْتِ وَحُسْنِ الْخُلُقِ، فَإِنَّكَ لَنْ تَعْمَلَ مِثْلَهَا((


“Diamlah dan berbudi pekertilah dengan baik, maka sesungguhnya kamu tidak akan dapat mengerjakan sesuatu yang menyerupainya.”


Ganjaran orang yang berakhlak mulia sama dengan ganjaran orang yang melaksanakan shalat sunnah satu malam penuh dan berpuasa disiang harinya. Maka orang yang beriman seperti apa yang disabdakan Nabi : “Sesungguhnya orang yang berakhlak mulia sama derajatnya dengan orang yang berpuasa dan melaksanakan sholat malam.” Dan atas dasar inilah seorang sahabat yang mulia Abu Darda berkata: “Sesungguhnya seorang muslim yang baik akhlaknya akan masuk surga karena kabaikan akhlaknya, dan orang yang buruk akhlaknya akan masuk neraka karena keburukan akhlaknya.”


Akhlak Dalam Perspektif Islam


11


Tanda-tanda akhlak mulia:


Tanda-tanda akhlak mulia terkumpul dalam banyak sifat, di antaranya:


Handaknya seseorang memiliki banyak rasa malu, tidak menyakiti orang lain, banyak kebaikan, jujur dalam perkataan, sedikit berbicara, banyak bekerja, jauh dari sifat selalu ingin mengetahui urusan orang lain, berbakti dan banyak menyambung silaturahmi, sabar, banyak bersyukur, ridho, lapang dada, bersahabat, menjaga kehormatan, penyayang, tidak melaknat dan mencaci maki, tidak pula mengadu domba dan menceritakan kejelekan orang lain, tidak tergesa-gesa, tidak dengki, tidak kikir, tidak iri, wajah yang selalu berseri, mencintai karena Allah, ridha karena Allah, dan marah karena Allah.


Dan seorang yang berakhlak mulia tabah dalam menghadapi kejahatan orang lain terhadap dirinya, bahkan selalu mencari alasan untuk memaafkan segala kesalahan mereka. Dan ia selalu menjauhi keinginan untuk mencari-cari kesalahan dan membahas kejelekan-kejelekan mereka, karena orang yang beriman tidak mungkin menjadi seorang yang buruk akhlaknya dalam keadaan bagaimanapun jua.


Nabi  dalam beberapa sikapnya telah menekankan betapa pentingnya akhlak yang mulia


Akhlak Dalam Perspektif Islam


12


dan betapa besarnya pahala orang yang memiliki budi pekerti yang agung. Diriwayatkan dari Usamah bin Syarik ia berkata: “Tatkala kami sedang duduk bersama Rasulullah  tiba-tiba datang beberapa orang kepadanya seraya berkata: “Siapakah hamba yang paling dicintai oleh Allah ? Beliau bersabda: “Orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tabrani).


Dan diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma ia berkata: Aku mendengar Rasulullah  bersabda: “Tidakkah aku beritahu kepada kalian orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti? Mereka berkata: “Iya ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Orang yang paling baik akhlaknya di antara kamu.” (HR. Ahmad).


Dan Rasulullah  bersabda:





“Tiada sesuatu yang lebih berat pada timbangan seorang hamba pada hari kiamat nanti dari akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).


Akhlak Dalam Perspektif Islam


13


Akhlak Rasulullah .


Rasulullah  merupakan contoh yang paling tinggi di tengah-tengah para sahabatnya dalam budi pekerti yang beliau perintahkan. Beliau menyemaikan budi pekerti yang sangat tinggi dalam diri para sahabatnya dengan tindakannya, sebelum menanamkannya dengan perkataan yang penuh dengan hikmah dan nasehat.


Diriwayatkan dari Anas  ia berkata: Aku melayani Rasulullah  selama sepuluh tahun, demi Allah, beliau tidak pernah mengucapkan kepadaku perkataan “ah”, dan tidak pernah mengatakan “kenapa kamu lakukan seperti ini? Tidakkah kamu kerjakan seperti ini?” (HR. Muslim).


Dan diriwayatkan pula darinya, ia berkata: “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah  beliau mengenakan sebuah burdah yang tebal ujung-ujungnya, dan seorang badwi menghampirinya lalu menariknya dengan kuat sekali, sehingga aku dapat melihat pundak Rasulullah  dan terdapat bekas dari tarikan tersebut karena kuatnya. Kemudian orang itu berkata: “Ya Muhammad, perintahkan untukku dari harta Allah yang ada padamu!” Maka Rasulullah  menoleh kepadanya lalu beliau tertawa dan memerintahkan untuk memberinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Akhlak Dalam Perspektif Islam


14


Dan ‘Aisyah —istri Nabi — tatkala di tanya: Apa aktifitas beliau selama berada di rumahnya? Ia menjawab: “Beliau melayani keluarganya, dan jika datang waktu shalat beliau berwudhu lalu keluar untuk melakukan shalat.” (HR. Muslim).


Dan diriwayatkan dari Abdullah bin al Harits ia berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak senyumnya dari Rasulullah .” (HR. Tirmidzi).


Dan telah sama-sama diketahui bahwa di antara akhlak Rasulullah  adalah kedermawan beliau, beliau tidak kikir dengan apapun yang beliau miliki, beliau seorang pemberani yang selalu memberikan hak kepada pemiliknya, adil dan tidak berat sebelah dalam memberikan keputusan hukum, jujur dan dipercaya dalam seluruh kehidupannya. Diriwayatkan dari Jabir  ia berkata: “Tidak pernah Nabi  diminta sesuatu lalu mengatakan tidak.” (Muttafaqun ‘alaih).


Nabi  juga bergaul dan bersenda gurau dengan para sahabatnya, bermain dengan anak-anak mereka serta memangkunya, memenuhi undangan dan menjenguk orang sakit, serta menerima permohonan maaf orang yang memintanya.


Akhlak Dalam Perspektif Islam


15


Beliau juga memanggil para sahabatnya dengan nama panggilan yang paling mereka sukai, dan tidak pernah memotong pembicaraan orang lain.


Diriwayatkan dari Qatadah  ia berkata: Tatkala datang utusan raja Najasyi Nabi  melayani mereka, maka para sahabatnya berkata: Biarkanlah kami yang melayani mereka. Maka beliau berkata: “Sesungguhnya mereka telah menghormati sahabat-sahabatku, dan aku ingin membalas kebaikan mereka.” Lalu beliau berkata: “Sesungguhnya aku seorang hamba yang makan seperti hamba yang lain, dan duduk seperti yang lain.” Beliau juga menunggang keledai, dan menjenguk orang-orang miskin serta berkumpul dengan orang-orang fakir.”


Jujur.


Sesungguhnya orang muslim itu jujur terhadap Tuhannya dan semua manusia dalam segala keadaan, baik dalam ucapan maupun tindakan.


Allah  berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ  


Akhlak Dalam Perspektif Islam


16


“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At Taubah: 119).


Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ia berkata: “Tidak ada akhlak yang paling dibenci oleh Rasulullah  selain kedustaan....” (HR. Ahmad).


Rasulullah  pernah ditanya: “Apakah orang mu’min dapat menjadi penakut?” Beliau bersabda: “Ya!” dan dikatakan kepada beliau: “Apakah orang mu’min dapat menjadi seorang yang kikir?” Beliau bersabda: “Ya!” lalu dikatakan kepada beliau: “Apakah orang mu’min dapat menjadi pembohong?” Beliau bersabda: “Tidak...” (HR. Malik).


Dan melakukan kedustaan dalam agama merupakan bentuk kebohongan yang paling besar, dan balasannya adalah api neraka, berdasarkan sabda Rasulullah :


))مَنْ كَذََبَ عَلَيَّ مُتَعَمِِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ((


“Barangsiapa yang berdusta atas diriku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.” (HR.Bukhari).


Agama Islam telah menganjurkan kita untuk menanamkan kejujuran kepada anak-anak sejak dini,


Akhlak Dalam Perspektif Islam


17


agar mereka tumbuh menjadi remaja-remaja yang jujur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah  dari Rasulullah  sesungguhnya beliau bersabda:





“Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil: kemari, ambillah..! kemudian ia tidak memberinya makanan, maka itu merupakan sebuah kedustaan.” (HR. Ahmad).


Rasulullah  telah memerintahkan umatnya untuk menjauhi kebohongan walaupun dalam senda gurau, dan menjanjikan sebuah rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang tidak berdusta walaupun dalam candanya, sabda Rasulullah :


))أَنَا زَعِيْ م بِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الْجَنَّةِ، لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ


مَازِحًا((


“Aku menjamin sebuah rumah di tengah-tengah surga, bagi orang yang tidak pernah berdusta walaupun dalam candanya.” (HR. Abu Dawud).


Dan terkadang seorang pedagang berbohong ketika menerangkan barang dagangannya, hal ini


Akhlak Dalam Perspektif Islam


18


telah diperingatkan oleh Rasulullah  dalam sabdanya:





“Tidak halal bagi seorang muslim menjual barang dagangan yang ia ketahui ada cacatnya, kecuali ia menerangkannya.” (HR. Bukhari).


Amanah.


Islam memerintahkan pengikutnya untuk melaksanakan amanat, dan merasa takut kepada Tuhannya setiap kali ia melaksanakan amalan baik kecil maupun besar. Orang muslim adalah seorang yang amanah dalam melaksanakan semua kewajibannnya terhadap Allah  dan dalam pergaulannya dengan sesama manusia. Maka amanah adalah tekad seseorang untuk melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya dengan sesempurna mungkin.


Allah  berfirman:


Akhlak Dalam Perspektif Islam


19





“Seseungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara kamu menetapkan dengan adil.” (An Nisaa: 58).


Dan Nabi  telah bersabda:


))لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ...((


“Tidaklah beriman orang yang tidak memiliki amanah...” (HR. Ahmad).


Dan amanat bukan hanya sebatas menjaga barang titipan semata, sebagaimana yeng dipahami oleh sebagian orang, akan tetapi ia lebih luas dari itu semua, yaitu keikhlasan seseorang dalam menjalankan semua tugas dan kewajiban yang diembannya baik dalam urusan agama atupun dunia.


Akhlak Dalam Perspektif Islam


20


Tawadhu.


Orang muslim adalah orang yang tawadhu tanpa harus menghina dirinya, dan sama sekali ia tidak boleh merasa sombong untuk selamanya.


Allah  berfirman:


وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ  


“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy Syu’araa: 215).


Dan Rasulullah  bersabda:


))...مَا تَوَاضَعَ أَحَ د للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ((


“Tidaklah seseorang bertawadhu karena Allah, melainkan Allah mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).


Dan sabda beliau:


))إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَ د عَلَى أَحَدٍ


وَلاَ يَبْغِيَ أَحَ د عَلَى أَحَدٍ((


“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku “Tawadhulah kalian sehingga tidak ada seorangpun


Akhlak Dalam Perspektif Islam


21


yang menyombongkan dirinya dan berlaku aniaya terhadap orang lain.” (HR.Muslim).


Di antara gambaran sifat tawadhu adalah:


Berkumpul dengan para fakir miskin dan tidak merasa lebih tinggi dari mereka, berwajah ceria di hadapan manusia dan tidak merasa lebih baik dari meraka. Rasulullah  yang merupakan nabi umat ini menyapu rumahnya, memerah kambing, menjahit baju, makan bersama pembantunya, membeli kebutuhannya di pasar, menyalami orang dewasa dan anak kecil, orang kaya dan fakir dari kalangan kaum muslimin.


Malu.


Sesungguhnya rasa malu adalah salah satu cabang dari cabang-cabang keimanan, dan rasa malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullah  yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dan suri tauladan yang harus dicontoh oleh orang muslim tentang akhlak yang mulia ini adalah Rasulullah  karena beliau seorang yang sangat pemalu. Diriwayatkan dari Abu Said  ia berkata: “...Apabila beliau membenci sesuatu kami mengetahuinya dari raut wajah beliau.” (HR. Bukhari).


Akhlak Dalam Perspektif Islam


22


Dan rasa malu yang dimiliki seorang muslim tidak menghalanginya untuk mengatakan sesuatu yang hak, atau menuntut ilmu, atau menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sebagaimana rasa malu itu tidak menghalangi Umu Sulaim untuk mengatakan kepada Rasululah  “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap yang hak, apakah wajib bagi seorang wanita yang bermimpi (basah) mandi besar?” Beliau bersabda: “Iya, jika ia melihat cairan (mani).” (HR. Bukhari).


Namun rasa malu itu hendaknya menghalangi orang muslim untuk melakukan keburukan dan kejelekan, atau lalai dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, atau membuka rahasia orang lain dan berbuat jahat terhadap mereka.


Dan malu kepada Allah itu lebih utama. Orang mu’min merasa malu kepada Sang Khaliq yang telah menciptakan dirinya dan memberi begitu banyak kenikmatan kepadanya, maka iapun malu jika lalai dalam mantaati-Nya dan mensyukuri segala nikmat-Nya. Rasulullah  bersabda:


))فَاللهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنَ النَّاسِ((


“Maka Allah lebih berhak untuk disungkani dari pada manusia.” (HR.Bukhari).


Akhlak Dalam Perspektif Islam


23


Akhlak Tercela:


Zalim.


Sesungguhnya orang muslim yang hakiki tidak akan pernah menzalimi orang lain, karena kezaliman merupakan hal yang diharamkan dalam agama Islam. Allah  berfirman:


وَمَنْ يَظْلِمْ مِنْكُمْ نُذِقْهُ عَذَابًا كَبِيْرًا  


“Dan barangsiapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya kami rasakan kepadanya adzab yang besar.” (Al Furqan: 19).


Dalam sebuah hadits qudsi Allah  berfirman:





“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan aku haramkan kezaliman di antara kamu, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim).


Dan Kezaliman terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:


Akhlak Dalam Perspektif Islam


24


1. Kezaliman hamba terhadap Tuhannya, yaitu kufur tehadap Allah , Allah  berfirman:


وَالْكَافِرُوْنَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ  


"Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (Al Baqarah: 254).


Dan melakukan kesyirikan dalam beribadah kepada Allah  yaitu dengan melaksanakan beberapa bentuk ibadah yang ditujukan kepada selain Allah . Allah  berfirman:





“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13).


2. Kezaliman hamba terhadap orang lain, yaitu dengan berbuat aniaya terhadap kehormatan, badan, dan harta mereka dengan cara yang batil. Rasulullah  bersabda:





Akhlak Dalam Perspektif Islam


25


“Barangsiapa yang pernah menzalimi saudaranya baik kehormatan atau sesuatu apapun, maka hendaklah ia minta kehalalan darinya hari ini juga, sebelum datang suatu masa yang tidak lagi berguna dinar dan dirham, jika ia memiliki kebaikan akan diambil darinya kebaikan itu sebanyak kezaliman yang ia lakukan, dan jika ia tidak memiliki kebaikan, maka diambil dari keburukan temannya lalu ditimpakan kepadanya.” (HR. Bukhari).


3. Kezaliman hamba terhadap dirinya, yaitu dengan melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah . Allah  berfirman:


 وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ 


“Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al Baqarah: 57).


Maka melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah  merupakan bentuk kezaliman terhadap diri sendiri, karena dengan demikian mereka berhak mendapatkan adzab dari Allah .


Akhlak Dalam Perspektif Islam


26


Hasud (Dengki).


Hasud merupakan salah satu akhlak tercela yang wajib dijauhi oleh setiap muslim, karena ia merupakan bentuk penentangan terhadap apa yang telah Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya.


Allah  berfirman:


 أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ 


“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya?” (An Nisaa’: 54).


Hasud ada dua macam:


1. Mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain baik harta, ilmu, atau kekuasaan, lalu pindah kepada dirinya.


2. Mengharapkan hilangnya kenikmatan yang dirasaskan oleh orang lain, walaupun ia tidak mendapatkannya.


Rasulullah  bersabda:





Akhlak Dalam Perspektif Islam


27


“Jauhilah hasud, karena hasud dapat menghapus kebaikan sebagaimana api membakar kayu atau rerumputan.” (HR. Abu Dawud).


Dan tidak dikatakan dengki jika ia menginginkan kenikmatan yang dirasakan oleh orang lain tanpa mengharapkan hilangnya kenikmatan tersebut dari orang itu.


Ghisy (Curang).


Orang muslim jujur terhadap saudaranya, ia tidak berlaku curang terhadap siapapun, ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.


Rasulullah  bersabda:


))مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا((


“Barangsiapa yang berlaku curang terhadap kami, bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim).


Dan diriwayatkan oleh Muslim pula bahwa Rasulullah  melewati sebuah tumpukan makanan, kemudian beliau memasukkan tangannya kedalam tumpukan makanan tersebut, dan dari tangannya beliau merasakan sesuatu yang basah, beliau bersabda: “Apakah ini wahai pemilik makanan?” Pemilik makanan itu menjawab: “Ia terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda:


Akhlak Dalam Perspektif Islam


28


“Tidakkah kamu meletakkannya di atas makanan ini sehingga diketahui oleh semua orang?! Barangsiapa yang berlaku curang terhadap kami, bukan dari golongan kami.”


Membanggakan diri (Sombong).


Terkadang manusia merasa bangga dengan ilmunya, sehingga membuat dirinya merasa lebih hebat dari orang lain dan menganggap remeh para ahli ilmu selain dirinya. Dan terkadang ia merasa bangga dengan hartanya, lalu merasa lebih tinggi dari orang lain, dan terkadang pula ia merasa bangga dengan kekuatan yang dimilikinya, atau dengan ibadah yang di lakukannya, dan lain sebagainya.


Akan tetapi seorang muslim yang hakiki, menjauhi sifat yang tercela ini dan menjaga diri darinya, dan selalu ingat bahwa faktor penyebab diusirnya Iblis dari surga adalah karena kesombongannya. Tatkala ia diperintahkan sujud kepada Adam ia berkata: “Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” Dan inilah sebab dikeluarkannya ia dari rahmat Allah .


Dan untuk mengobati prilaku yang buruk ini, hendaknya setiap orang menyadari bahwa semua nikmat yang telah Allah karuniakan kepadanya, baik


Akhlak Dalam Perspektif Islam


29


berupa ilmu, harta, kesehatan, atau dalam bentuk lainnya, sungguh Allah maha kuasa untuk mengambilnya kembali setiap saat.


Kiat-kiat Mencapai Akhlak Terpuji


Tidak diragukan lagi bahwa hal yang paling berat menurut kebuasaan manusia adalah merubah akhlak yang sudah menjadi tabiat dirinya. Namun hal tersebut bukanlah tidak mungkin, bahkan disana terdapat banyak cara dan jalan yang dapat ditempuh olehnya agar sampai kepada akhlak yang terpuji, di antaranya:


1. Kebenaran aqidah:


Aqidah merupakan permasalahan yang sangat besar sekali, karena sebagian besar akhlak yang ada pada diri seseorang, merupakan buah dari pola fikirnya, dan aqidah yang diyakininya, serta agama yang dianutnya.


Aqidah itu sendiri adalah keimanan, orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Maka jika aqidahnya benar baik pula akhlaknya, karena aqidah yang benar membawa orang yang meyakininya kepada akhlak yang mulia, seperti jujur, dermawan, sabar, berani, dan lain sebagainya, sebagaimana ia menjauhkannya pula dari akhlak yang tercela, seperti bohong, kikir, menyimpang dari kebenaran, bodoh, dan lain sebagainya.


Akhlak Dalam Perspektif Islam


30


2. Doa:


Doa iabarat sebuah pintu yang sangat besar sekali, apa bila dibukakan bagi seorang hamba, ia akan mendatangkan banyak kebaikan dan menurunkan kepadanya keberkahan. Maka barangsiapa yang menginginkan akhlak yang mulia dan terlepas dari akhlak tercela, hendaklah ia bersandar kepada Tuhannya, memohon kepada-Nya agar dikaruniai akhlak terpuji dan dijauhi dari akhlak yang tercela. Dan doa mempunyai pengaruh yang sangat kuat sekali dalam masalah akhlak dan lainnya, oleh karena itu Nabi  banyak merendah kepada Allah  memohon agar dikaruniai budi pekerti yang agung, seperti yang beliau ucapkan dalam doa iftitah:





“Ya Allah, Tunjukilah aku kepada akhlak yang terpuji, dan tiada petunjuk kepadanya selain petunjuk-Mu, dan jauhkanlah diriku dari akhlak tercela, dan tiada yang dapat menjauhkannya dari diriku melainkan Engkau.” (HR. Muslim).


3. Mujahadah (Kesungguhan hati):


Kesungguhan hati mempunyai peranan yang


Akhlak Dalam Perspektif Islam


31


sangat penting sekali dalam masalah ini, maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh menghiasi dirinya dengan kemulian, dan menjauhkannya dari kehinaan, maka ia akan mendapatkan banyak kebaikan, dan akan terjaga dari semua keburukan yang menguasai diri. Beberapa akhlak ada yang bersifat bawaan yang tertanam secara fitrah dalam diri manusia, dan ada pula yang diperoleh dengan latihan dan kebiasaan yang sering dilakukan.


Bersungguh-sungguh bukan hanya sekali, dua kali, atau lebih dari itu, akan tetapi usaha seseorang yang terus menerus tanpa henti dengan penuh kesungguhan hati sampai ia mati. karena bersungguh-sungguh dalam kebaikan merupakan salah satu bentuk ibadah.


Allah  berfirman:


وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ  


“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Al Hijr: 99).


4. Muhasabah (Berkontemplasi):


Yaitu dengan mengoreksi diri jika ia telah melakukan akhlak yang tercela, dan berjanji tidak mengulangi hal tersebut untuk kedua kalinya.


Akhlak Dalam Perspektif Islam


32


5. Merenungi pengaruh positif yang dihasilkan oleh akhlak yang terpuji:


Karena mengetahui buah yang baik dan akibat yang positif dari satu pekerjaan, merupakan salah satu sebab terbesar yang dapat mendorong seseorang berusaha keras untuk mengerjakannya.


6. Berfikir tentang keburukan yang ditimbulkan oleh akhlak yang tercela:


Yaitu memikirkan secara mendalam akibat negatif, buah dari akhlak yang tercela, seperti kesedihan yang berkepanjangan, kegelisahan yang terus menerus, meratapi diri, penyesalan, serta kebencian dalam hati manusia.


7. Menjauhi rasa putus asa dalam memperbaiki diri:


Putus asa sama sekali tidak mendatangkan kebaikan untuk orang muslim, dan tidak pantas seorang muslim berputus asa, namun hendaknya ia membulatkan tekad dan terus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai kesempurnaan dirinya, dan mengetahui segala kekurangan dan keburukannya.


8. Berusaha untuk selalu tersenyum dan ceria, tidak cemberut dan murung:


Sesungguhnya senyum seseorang di hadapan saudaranya sesama muslim merupakan salah satu


Akhlak Dalam Perspektif Islam


33


bentuk shadaqah yang memiliki nilai pahala di sisi Allah . Nabi  bersabda:


))تَبَسُّمُكَ فِيْ وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ((


“Senyumanmu di hadapan saudaramu bernilai shadaqah bagimu.” (HR. Tirmidzi).


Dan sabdanya:





“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun juga, walaupun kamu bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim).


9. Mengabaikan hal-hal yang kecil dan melupakannya:


Dua sifat ini merupakan salah satu sifat orang-orang yang berjiwa besar dan agung, dan keduanya dapat membantu menimbulkan kecintaan dan melanggengkannya, serta mampu memadamkan api permusuhan.


10. Lapang dada (sabar):


Lapang dada merupakan salah satu akhlak yang paling mulia, yang paling berhak dimiliki oleh


Akhlak Dalam Perspektif Islam


34


orang-orang yang berakal. Ia merupakan kestabilan jiwa pada saat memuncaknya emosi, dan orang yang lapang dada bukan orang yang tidak boleh marah, ia marah pada saat timbulnya faktor-faktor yang mendorong kemarahannya, namun ia menahan dan mengendalikan dirinya dengan penuh kesabaran. Apabila seseorang memiliki sifat ini, akan banyak yang mencintainya dan sedikit yang membencinya, serta tinggi kedudukannya.


11. Berpaling dari orang-orang bodoh:


Barangsiapa yang berpaling dari orang-orang bodoh, berarti dia telah menjaga kehormatannya, menentramkan jiwanya dan menyelamatkan pendengarannya dari sesuatu yang menyakitinya.


Allah  berfirman:


 خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ 


“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (Al A’raaf: 199)


12. Tidak menghina orang lain.


13. Melupakan keburukan orang lain:


Yaitu dengan melupakan kejahatan orang lain terhadap dirimu, agar hatimu menjadi bersih dari


Akhlak Dalam Perspektif Islam


35


keburukannya dan tidak memendam amarah kepadanya. Karena orang yang selalu mengingat kejahatan saudaranya, tidak akan pernah bisa mencintai mereka dengan sepenuh hati, dan barangsiapa yang tidak dapat melupakan keburukan orang lain terhadap dirinya, tidak akan dapat hidup bersama dengan mereka. Maka lupakanlah sebatas kamu dapat melupakannya.


14. Memaafkan (kesalahan orang) dan mengabaikannya, serta membalas keburukan dengan kebaikan:


Sifat ini merupakan faktor yang dapat meninggikan kedudukan seseorang, disamping itu ia juga mendatangkan ketenangan pada jiwa dan menghilangkan rasa dendam dalam hati.


15. Dermawan:


Kedermawanan adalah sifat terpuji, sedangkan kikir adalah sifat tercela. karena kedermawanan dapat menimbulkan kecintaan dan menghapuskan permusuhan, meninggalkan nama baik dan menutupi kejelekan dan keburukan.


16. Hanya mengharapkan ganjaran dari Allah :


Sikap ini merupakan salah satu faktor terbesar yang dapat membantu seseorang sampai kepada


Akhlak Dalam Perspektif Islam


36


akhlak yang mulia, karena sikap ini membuat seseorang menjadi sabar, bersungguh-sungguh, tabah dalam menghadapi keburukan orang lain. Maka jika ia meyakini bahwa Allah  akan memberinya ganjaran pahala atas kebaikan akhlak dan kesungguhan hatinya, ia akan terus berkeinginan kuat untuk mencapai akhlak yang mulia, dan terasa ringan segala yang menimpa dirinya dalam menggapai sesuatu yang diinginkannya itu.


17. Berusaha untuk tidak marah:


Karena kemarahan merupakan bara api yang menyala di dalam hati, yang menyebabkan timbulnya kekerasan, dendam kesumat, dan senang dengan kesusahan orang lain. Maka jika seseorang mampu menguasai dirinya pada saat marah, berarti ia telah menjaga wibawa dan kehormatan dirinya, serta menjauhkannya dari kehinaan dan penyesalan di kemudian hari. Diriwayatkan dari Abu Hurairah  ia berkata: “Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah  seraya berkata: “Wahai Rasulullah, berwasiatlah kepadaku!” Maka Rasulullah  bersabda: “Jangan marah..!” Kemudian orang itu terus mengulangi permintaannya, maka beliau bersabda: “Jangan marah..!” (HR. Bukhari).


Akhlak Dalam Perspektif Islam


37


18. Menerima nasehat dan kritik yang membangun:


Jika seseorang diingatkan tentang kekurangan dirinya, maka hendaknya ia menerima dan berusaha menutupi kekurangan tersebut, karena perbaikan diri tidak akan sempurna dengan mengabaikan aib yang ada.


19. Melaksanakan tugas yang diembannya dengan sebaik mungkin:


Sehingga ia selamat dari caci maki orang dan kehinaan diri.


20. Menerima kesalahan yang terjadi dan tidak mencari-cari alasan untuk membenarkannya:


Maka yang demikian itu merupakan tanda akhlak yang terpuji dan menjauhkan orang yang mengerjakannya dari kedustaan dan kebohongan. Sikap ini juga merupakan keutamaan yang dapat meninggikan derajat orang yang melakukannya.


21. Melazimkan kejujuran:


Kejujuran mempunyai pengaruh yang positif, karena dengan kejujuran seseorang menjadi mulia dan tinggi kedudukannya. Kejujuran juga menjauhkan dirinya dari kotoran kedustaan, dan penyesalan yang mendalam pada hati nurani, serta kehinaan. Sebagaimana ia juga menjaga dirinya dari kejahatan orang lain, dan menjaga kepercayaan


Akhlak Dalam Perspektif Islam


38


orang lain kepada dirinya, serta mendatangkan kemulian, keberanian dan kepecayaan diri.


22. Menjauhi sifat banyak mencerca dan bersikap keras terhadap orang telah berlaku jahat kepadanya:


Karena sifat ini dapat mengundang kemarahan dan permusuhan serta kata-kata yang menyakitkan. Maka orang yang cerdas tidak akan menyalahkan saudaranya dalam hal-hal yang kecil ataupun besar, bahkan berusaha mencari-cari alasan untuk memakluminya. Namun jika memang terdapat sebab-sebab yang mengharuskannya memcerca, maka harus dengan cara yang lembut dan santun.


23. Berteman dengan orang-orang baik dan berakhlak mulia:


Hal ini merupakan salah satu faktor terpenting yang dapat membuat seseorang tumbuh dalam koridor akhlak yang mulia dan menanamkannya dalam jiwa.


24. Menjaga adab berbicara dan bergaul:


Di antara adab yang harus dijaga dalam bergaul adalah mendengarkan perkataan orang yang sedang berbicara dan tidak memotongnya, mendustai, menganggap remeh, atau meninggalkannya sebelum ia menyelesaikan


Akhlak Dalam Perspektif Islam


39


pembicaraannya. Lalu mengucapkan salam ketika masuk dan keluar majlis, meluaskan tempat duduk, tidak membangunkan orang yang sedang duduk lalu ia menempati tempat duduknya, tidak memisahkan dua orang yang sedang duduk kecuali dengan seizin mereka berdua, dan tidak berbisik-bisik antara dua orang dan meninggalkan orang ketiga.


25. Selalu membaca sejarah kehidupan Nabi :


Sejarah kehidupan Nabi  memberikan gambaran kehidupan yang paling agung, petunjuk dan akhlak yang paling sempurna kepada pembacanya dalam sejarah kehidupan manusia.


26. Menelaah sejarah kehidupan para sahabat Nabi  yang mulia.


27. Membaca buku-buku akhlak.


Karena membaca dapat mengingatkan seseorang tentang pentingnya akhlak yang mulia serta keutamaannya, dan membantunya untuk sampai kepadanya, sebagaimana ia juga menjauhkan dirinya dari akhlak tercela, serta menjelaskan akibat buruknya, dan solusi terbaik agar dapat terlepas darinya.


وصلّى الله على نبيّنا محمد وعلى آله وصحبه وسلّم


Akhlak Dalam Perspektif Islam


40



 



Tulisan Terbaru

Ringkasan Tentang Hak ...

Ringkasan Tentang Hak-Hak Yang Sejalan Dengan Fitrah

Kiat-Kiat Menuju Kelu ...

Kiat-Kiat Menuju Keluarga Sakinah