Ikhlas Dalam Menuntut Ilmu


IKHLAS DALAM MENUNTUT ILMU
Samahah Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
1. Pertanyaan: Di kalangan penuntut ilmu, terutama di fakultas dan
lembaga pendidikan, tersebar ungkapan: ilmu sirna bersama pemiliknya,
dan sesungguhnya tidak ada lagi seseorang yang belajar di lembaga
pendidikan kecuali untuk mendapatkan syahadah (ijazah) dan dunia.
Bagaimanakah menjawab tuduhan ini? Apakah hukumnya bila
terkumpul niat dunia dan ijazah di sertai niat menuntut ilmu untuk diri
dan masyarakatnya?
Jawaban: Ungkapan ini tidak benar dan tidak sepantasnya
diungkapkan kata-kata ini dan semisalnya. Dan barangsiapa yang
berkata: 'Manusia telah binasa maka dia adalah yang paling binasa dari
mereka."1
Akan tetapi semestinya memberikan semangat dan dorongan untuk
menuntut ilmu, mencurahkan tenaga dan pikiran, teguh dan sabar untuk
hal itu, berprasangka baik terhadap penuntut ilmu, kecuali orang yang
sudah diketahui menyalahi hal itu.
Tatkala Mu'azd RA sakaratul maut, ia berpesan kepada orang yang
ada di sekitarnya agar menuntut ilmu, dan berkata: 'Sesungguhnya ilmu
dan iman berada di tempatnya, barangsiapa menginginkan keduanya
niscaya ia mendapatkannya.' Maksudnya: tempatnya ada di dalam
kitabullah dan sunnah rasul-Nya. Sesungguhnya seorang alim diambil
(wafat) dengan ilmunya, maka ilmu diambil dengan wafatnya para ulama.
Akan tetapi –alhamdulillah tetap ada golongan yang berada di atas
kebenaran.
Karena inilah, nabi saw bersabda:
1 HR. Muslim no. 2623.
3

"Sesungguhnya Allah swt tidak mengambil ilmu secara langsung dari
hamba, akan tetapi Dia mengambil ilmu dengan mengambil para ulama.
Sehingga bila tidak ada lagi ulama, manusia mengangkat para pemimpin
yang bodoh, maka mereka ditanya lalu berfatwa tanpa dasar ilmu, maka
mereka sesat lagi menyesatkan."2
Inilah yang dikhawatirkan, dikhawatirkan munculnya orang-orang
jahil memberi fatwa, maka mereka sesat lagi menyesatkan. Inilah
ungkapan yang dikatakan: ilmu telah hilang. Tidak ada lagi selain seperti
ini dan seperti itu. Dikhawatirkan menurunkan semangat sebagian orang,
sekalipun hal itu tidak melunturkan semangat orang yang teguh dan
cerdas, bahkan mendorongnya untuk terus menuntut ilmu sehingga bisa
menutup celah yang terbuka.
Orang yang paham lagi ikhlas, cerdas lagi mengerti terhadap ucapan
seperti ini tidak melunturkan semangatnya. Bahkan ia terus maju dan
bersungguh-sungguh, tetap ulet, belajar dan bersegera karena kebutuhan
terhadap ilmu untuk menutupi celah yang disangka orang-orang yang
mengatakan: 'sesungguhnya tidak ada lagi seseorang...' dan sebagian
besar ulama telah pergi. Maka sesungguhnya tetap ada golongan yang
menang, yang berada di atas kebenaran, seperti yang disabdakan Nabi
Muhammad SAW:

"Senantiasa segolongan umatku tetap nampak di atas kebenaran, tidak
mengganggu (mereka) orang yang menghina mereka sampai datang
perkara Allah swt."3
2 Al-Bukhari 100
3 Muslim 1290.
4
Maka kita harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu,
memberikan semangat atasnya, melaksanakan kewajiban di kota kita dan
yang lainya, karena mengamalkan dalil-dalil syar'i yang mendorong hal
itu, ingin mengajar dan memberi manfaat kepada kaum muslimin,
sebagaimana kita harus mendorong untuk tetap ikhlas dan benar dalam
menuntut ilmu.
Barangsiapa yang ingin mendapatkan ijazah agar kuat dalam
menyampaikan ilmu, berdakwah kepada kebaikan, sungguh ia telah
melakukan kebaikan dalam hal itu. Jika ia ingin mendapatkan harta agar
menjadi kuat dengannya, maka tidak mengapa ia belajar dan
mendapatkan ijazah yang membantunya dalam menyebarkan ilmu dan
supaya ilmu bisa diterima darinya dan agar mengambil harta yang
membantunya dalam berdakwah. Maka sesungguhnya kalau bukan
karena Allah SWT, kemudian harta, niscaya banyak sekali orang yang
tidak bisa belajar dan berdakwah. Harta membantu seorang muslim
dalam menuntut ilmu, menunaikan kebutuhannya, dan menyebarkan
ilmu kepada orang banyak. Tatkala Umar RA memegang satu tugas,
Rasulullah SAW memberikan harta kepadanya, ia berkata: 'Berikanlah
kepada orang yang lebih miskin dari saya.' Maka Nabi bersabda: 'Ambilah,
simpanlah atau sedekahkan dengannya. Apapun yang datang kepadamu
dari harta ini, sedang engkau tidak menghendaki dan tidak memintanya
maka ambilah, dan sesuatu yang tidak seperti itu maka janganlah engkau
menuruti keinginan nafsumu."4
Nabi memberi harta kepada muallaf yang imannya masih lemah dan
memberi semangat kepada mereka hingga mereka masuk ke dalam agama
Allah SWT secara berbondong-bondong, jika haram tentu beliau tidak
memberikan kepada mereka, bahkan beliau memberi kepada mereka
seperti saat futuh Makkah (penaklukan kota Makkah) dan sesudahnya.
Di hari futuh Makkah, beliau memberi sebagian orang sebanyak
seratus ekor unta dan Nabi Muhammad SAW memberikan seperti orang
yang tidak takut miskin, karena mendorong masuk Islam dan berdakwah
kepadanya.
4 Al-Bukhari 1473 dan Muslim 1045.
5
Allah SWT memberikan kepada muallaf satu bagian zakat,
memberikan jatah kepada mereka dari baitul maal dan selain mereka dari
para pengajar dan qadhi serta kaum muslimin yang lain. Wallahu
waliyuttaufiq.
Syaikh Bin Baaz –Majalah Buhuth ilmiyah 47 hal 157-160.

< PREVIOUS NEXT >