Cara Berfikir Dalam Islam

Pertanyaan

Saya telah membaca di websitenya orang-orang atheis bahwa Islam itu melarang berfikir, saya ingin membantah syubhat ini ?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Pertama:

Diwajibkan bagi seorang muslim untuk menjaga akidah dan keimanannya, dan mementingkan keselamatan fitrah dan pemikirannya, lari dengan membawa agama dan hatinya dari syubhat dan fitnah, karena hati itu lemah, dan syubhat itu menyambar, ia akan menyambar dengan kilatan yang dihiasi oleh ahli bid’an dan ahli kesesatan, akan tetapi pada hakekatnya ia adalah syubhat yang lemah dan tidak berarti.

Melihat pada buku-buku bid’ah dan sesat, atau buku-buku syirik dan khurafat atau buku-buku agama lain yang sudah dirubah, atau buku-buku mereka yang tidak percaya kepada Tuhan dan orang-orang munafik, atau website-website mereka yang mengandung pemikiran yang menyimpang ini dan yang mengarah kepada syubhat yang batil tidak boleh; kecuali bagi mereka yang mempunyai kapasitas ilmu syar’i yang dengan membacanya mereka ingin membantah dan menjelaskan kerusakannya dan mereka mempunyai kemampuan kapasitas pada masalah tersebut.

Adapun dengan hanya melihat atau membaca karya mereka bagi orang yang belum mempunyai kapasitas ilmu syar’i; seperti hal ini sebagian besarnya akan menyebabkan sedikit kebingungan, lemahnya keyakinan di dalam hatinya, dan syubhat akan menggoncang (pemahaman) nya.

Hal itu terjadi kepada banyak orang awam, bahkan dari para kaum terpelajar yang belum siap pada posisi tersebut, sehingga masalah ini sebagian mereka berujung pada ketergelinciran dan kesesatan, na’udzubillah.

Rata-rata yang menjadikan mereka terpesona saat melihat buku-buku tersebut merasa hatinya lebih kuat dari syubhat yang dipaparkan, hanya saja mereka dikagetkan dengan – banyaknya bacaan- bahwa hatinya dirasuki oleh syubhat tersebut tanpa mereka sadari.

Oleh karenanya ucapan para ulama dan para salafus shalihin mereka mengharamkan untuk melihat dan membaca buku-buku seperti itu.

Kami telah menyebutkan ucapan para ulama pada jawaban soal nomor: 92781

Kedua:

Harus mengambil Islam dari sumbernya, yang paling agung dan yang menjadi tumpuannya adalah Al Qur’an dan Sunnah

Islam telah menjadikan akal dan pemikiran mempunyai kedudukan, dan kedudukan tersebut nampak pada banyak ayat, di dalam Al Qur’an ada ungkapan yang diulangi beberapa kali, di antaranya:

  لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ   ،  لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ   ،  لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ 

“Agar mereka berfikir”, “Bagi kaum yang berfikir”, “Bagi kaum yang memahami”.

Allah telah mengajak untuk bertafakkur pada Al Qur’an al Karim, seraya berfirman:

  كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ 

ص/ 29 .

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”. (QS. Shad: 29)

Allah Subhanah berfirman mengajak untuk memikirkan makhluk-makhluk-Nya:

  أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ

الروم/8

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (QS. Ar Ruum: 8)

Bahkan Allah Ta’ala telah mencela para penduduk neraka, bahwa mereka tidak memanfaatkan akal mereka, Dia Allah telah menceritakan tentang mereka:

 وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ  

“Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (QS. Al Mulk: 10)

Firman Allah yang lain:

  أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ 

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (QS. Al Hajj: 46)

Bertafakkur adalah ibadah Allah ingatkan hal tersebut di dalam firman-Nya:

  إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ * الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

آل عمران

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imron: 190-191)

Syeikh As Sa’di berkata:

“Allah Ta’ala telah mengabarkan: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” termasuk dalam hal itu adalah mengajak para hamba-Nya  untuk bertafakur di dalamnya, mengenali tanda-tanda kekuasaan-Nya, mentadabburi ciptaan-Nya, yang sangat jelas dalam firman-Nya: “Ayaat” (tanda-tanda kekuasaan-Nya), Dia tidak mengatakan: “Sesuai dengan pembahasan seseorang”, hal ini memberi isyarat akan banyaknya dan keumumannya, hal itu karena di dalamnya terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menakjubkan yang menjadikan mereka yang melihatnya terbelalak, menjadikan para pemikir menjadi puas, menarik hatinya orang-orang yang jujur, menuntun akal yang jernih kepada pembahasan ketuhanan, adapun rincian apa yang mencakup hal tersebut maka tidak mungkin seorang makhluk mampu membatasinya dan mencakup sebagiannya.

Secara umum, semua keagungan dan keluasan, keteraturan peredaran dan gerak, akan menunjukkan pada keagungan penciptanya, keagungan kekuasaan-Nya, dan keumuman kekuasaan-Nya.

Ketelitian dan kejelian di dalamnya, keindahan ciptaan-Nya, kelembutan perbuatan-Nya, akan menunjukkan pada hikmah Allah dan penempatan Allah terhadap sesuatu pada tempatnya, dan keluasan ilmu-Nya.

Dan semua manfaat yang ada di dalamnya bagi para makhluk, menunjukkan luasnya rahmat Allah, keumuman karunia-Nya, keumuman kebaikan-Nya, dan kewajiban bersyukur kepada-Nya.

Semua itu menunjukkan akan keterkaitan hati kepada pencipta dan pembuatnya, upaya keras untuk meraih ridho-Nya, dan tidak mensekutukan-Nya dengan selain-Nya dimana (selain Allah) tidak mempunyai kekuasaan pada diri dan yang lainnya seberat biji sawi di bumi dan di langit.

Allah mengkhususkan pada ayat-ayat tersebut kepada ulul albab (orang-orang berakal); karena mereka yang akan mendapatkan manfaat, mereka lah yang melihat dengan akal mereka tidak dengan mata hati mereka.

Kemudian Allah memberikan sifat bahwa ulul albab ini adalah mereka yang selalu mengingat Allah pada semua kondisi mereka, dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, hal ini mencakup semua bentuk dzikir, dengan ucapan dan hati, termasuk juga pada saat shalat berdiri, jika tidak mampu dengan duduk, dan jika tidak mampu dengan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi agar semua itu menjadi bukti dari apa yang dituju.

Semua ini menunjukkan bahwa tafakkur adalah ibadah dari sifat-sifat para wali Allah yang arif, jika mereka berfikir mereka akan mengetahui bahwa Allah tidak menciptakannya sia-sia, dan mereka akan mengatakan: “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, Maha suci Engkau dari semua yang tidak layak dengan keagungan-Mu, akan tetapi Engkau telah menciptakannya dengan benar, untuk kebenaran dan mencakup kebenaran. Maka peliharah kami dari api neraka dengan menjaga kami dari keburukan dan berilah kami taufik untuk bisa mengamalkan amal sholih agar kami mendapatkan keselamatan dari api neraka”. (At Tafsir: 161)

Dan di dalam hadits dari ‘Atha’ berkata:

  دَخَلْتُ أَنَا وَعُبَيْدُ بْنُ عُمَيْرٍ عَلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ لِعُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ: قَدْ آنَ لَكَ أَنْ تَزُورَنَا فقَالَ: أَقُولُ يَا أُمَّهْ كَمَا قَالَ الْأَوَّلُ: زُرْ غِباً تَزْدَدْ حُبًّا قَالَ: فَقَالَتْ: دَعُونَا مِنْ رَطَانَتِكُمْ هَذِهِ قَالَ ابْنُ عُمَيْرٍ: أَخْبِرِينَا بِأَعْجَبِ شَيْءٍ رَأَيْتِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: فَسَكَتَتْ ثُمَّ قَالَتْ: لَمَّا كَانَ لَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي قَالَ: ( يَا عَائِشَةُ ذَرِينِي أَتَعَبَّدُ اللَّيْلَةَ لِرَبِّي ) قُلْتُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّ قُرْبَكَ وَأُحِبُّ مَا سَرَّكَ قَالَتْ: فَقَامَ فَتَطَهَّرَ ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي قَالَتْ : فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ حِجره قَالَتْ: ثُمَّ بَكَى فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ لِحْيَتَهُ قَالَتْ: ثُمَّ بَكَى فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ الْأَرْضَ فَجَاءَ بِلَالٌ يُؤْذِنُهُ بِالصَّلَاةِ فَلَمَّا رَآهُ يَبْكِي قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ تَبْكِي وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ:(أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ؟! لَقَدْ نَزَلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ آيَةٌ ؛ وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْ فِيهَا:  إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ .... ) 

الْآيَةَ كُلَّهَا آل عمران/190. رواه ابن حبان في صحيحه : (2/ 286) ، وانظر : "السلسة الصحيحة "(1/ 147(

“Saya dan Ubaid bin Umair menghadap ‘Aisyah lalu beliau berkata kepada Ubaid bin Umair: “Sudah saatnya bagimu untuk mengunjungi kami”, ia menjawab: “Wahai ibu, sebagaimana ucapan pendahulu: “Kunjungilah secara berkala, maka akan bertambah cinta”, beliau menjawab: “Tinggalkan kami dengan ucapan yang tidak jelas kalian”. Ibnu Umair berkata: “Kabarkanlah kepada kami apa yang paling menakjubkan yang telah anda lihat dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau diam lalu berbicara: “Pada suatu malam, beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah, biarkan aku beribadah kepada Rabbku pada malam ini”, saya menjawab: “Demi Allah, sungguh aku ingin dekat denganmu dan aku mencintai apa yang menjadikanmu bahagia, lalu beliau berdiri berwudhu’ kemudian mendirikan shalat dan beliau terus menangis sampai pangkuannya basah, beliau masih juga menangis sampai jenggotnya basah, beliau masih tetap menangis sampai lantainya basah, sampai Bilal datang meminta izin untuk shalat, pada saat melihat beliau menangis Bilal berkata: “Wahai Rasulullah, kenapa anda menangis padahal Allah telah mengampuni dosa anda sebelum dan sesudahnya ?”, beliau menjawab: “Tidakkah boleh aku menjadi hamba yang bersyukur ?!, telah turun kepadaku pada malam ini sebuah ayat, celaka bagi orang yang membacanya dan tidak bertafakkur tentangnya: “Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi…..semua ayat dari QS. Ali Imran: 190”. (HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya (2/286) baca juga: As Silsilah As Shahihah: 1/147)

Seorang sastrawan dan pemikir besar Ustadz Abbas Mahmud Al ‘Aqqad mempunyai buku seputar masalah ini judulnya: “At Tafkiir Faridhah Islamiyah” bisa diambil manfaat darinya.

< PREVIOUS NEXT >